ads

Keluarga

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Muslimah

Sastra Islam

Dera Mau Jadi Muslimah yang Baik Mah

Hari ini langit bersinar cerah seakan-akan baru saja mendapat tambahan energy dari Tuhannya. Dera seorang gadis labil yang baru saja menginjakkan kakinya di tingkat Sekolah Menengah Atas atau SMA. Seperti pada umumnya, Dera tak mngenal satu orangoun di sekolah barunya. Dia berjalan menenteng tasnya melewati koridor kelas yang terlihat sangat asing dari pandangannya. Dilihatnya sekelompok orang sedang bergumam riang, tertawa senyamannya, sepertinya ia akan menjadi seperti mereka yang sedang bercengkrama itu jika sudah saling mengenal nanti.


Assalamu’alaikum”, seseorang dari belakangnya menepuk pundaknya. 

Dera menoleh ditemukannya seorang gadis cantik memakai kerudung yang agak besar atau lebar dibelakangnya. Dera mengangguk dan tersenyum kearah gadis itu.

Kamu muslim kan?”, kata gadis yang belum dikenalnya.

Dia pantas ditanyai seperti itu karena Dia tak memakai kerudung dan rambutnya pun tak berwarna hitam, melainkan bercampur dengan cokelat atau pirang. Dera mengangguk sambil tersenyum. Dera memang begini, tak bisa langsung akrab dengan orang yang baru dikenal.

Jawab salam dong, kan wajib”, sentil gadis tu sambil menyikut siku Dera dengan maksud bercanda.

Gadis itu sepertinya gampang beradaptasi atau supel.

he..he.. iya, wa’alaikumussalam”, jawab Dera dengan sedikit ragu, malu dan apalah itu namanya.

Gadis yang saat itu berjalan berdampingan dengan Dera mengulurkan tangannya.

Fina”, sambil tersenyum kearah Dera.

Dera menyambut uluran tangan Fina dengan senang hati, setidaknya dia mendapat teman baru sekarang. “semoga saja satu kelas dengannya”, gumam Dera dalam hati.

Fina, kelas x kan?”, Tanya Dera hati-hati, takutnya Dia kaka kelas karena ukuran tubuhnya sangat tinggu, jauh lebih tinggi dari Dera.

iya Der, kelas x, murid baru nih, masih belia, he.. he.. he..”.

Dera merasa nyaman dengan Fina, karena Fina sangatlah supel, sepertinya enak diajak bercanda.

sama dong, kamu kelas x apa?”, Tanya Dera lagi.

sepuluh E, kamu?” Wajah Dera berubah menjadi berseri-seri. Ya, mereka satu kelas.

Alhamdulillah ya, kita satu kelas”.

Dera menggandeng erat Fina, rasanya seperti mereka sudah berteman lama, padahal baru saja, mungkin enam menit yanglalu.

kita sebangku yaa duduknya!”, kata Dera reflex.

Hari ini tepat seminggu sudah Fina dan Dera bersekolah. Hari ini adalah dari ulang tahun Fina dan Dera diundang untuk menghadiri syukuran di rumahnya. Dera paham sekali bagaimana Fina, tak mungkin Dera datang ke rumahnya dengan memakai pakaian yang sama seperti pakaian yang biasa ia pakai menghadiri pesta ulang tahun teman-temannya. Dera memutuskan untuk memakai gamis pemberian ibunya pada saat lebaran tahun kemarin dengan kerudung segiempat yang sudah sangat jarang dipakainya semenjak bulan puasa berakhir. Dera membalut rambutnya yang biasa selalu Nampak tergerai rapi dengan kerudung. Perlahan demi perlahan, tak sampai sepuluh menit kepalanya sudah terbalut rapi dengan kerudung.

Assalamualaikum”, Dera memencet bel yang letaknya di luar pagar rumah Fina. Belum sempat satu menit Dera menunggu, seorang ibu-ibu berkerudung putih membukakan pagar sambil tersenyum, senyumnya mirip sekali dengan senyuman Fina. Sepertinya ibunyalah yang membukakan pintu.

wa’alaikumussalam. Subhanallah, cantik sekali. Siapa, temannya Fina ya?”sambut ibu-ibu itu dengan ramah. Dera pun tersenyum mendengar sambutan yang super hangat itu

Alhamdulillah, terimakasih tante. Saya teman sekelas Dera tante, acaranya belum mulai?”, Tanya Dera dengan suaranya yang sedikit lebih lembut dari biasanya.

eh, ayo masuk dulu. Masa iya ngobrolnya di luar”, ibu itu mengisyaratkan tangannya seolah – olah menyuruh Dera mengikutinya. Dera mengikuti ibu itu dari belakang.

ayo masuk, tak usah malu. Anggap saja rumah sendiri. Oiya, kenalkan tante mamanya Fina”
Benar dugaan Dera, ibu tadi adalah mama Fina. Dera duduk di atas sofa yang disediakan di rumah Fina, rumahnya tertata rapi dan nyaman. Tak lama kemudian Fina datang membawa nampan yang di atasnya ada satu teko dan satu cangkir.

eh Fin! Belum mulai acaranya?!”, Tanya Dera saat Fina datang.

apanya, acaranya mulai jam tiga kan? Kamu kepagian?”, Fina menjulurkan lidahnya sambil menuangkan the dari tekonya ke dalam cangkir.

apa? Jam tiga? Lha, aku piker jam dua belas tadi!”, Dera menyenderkan tubuhnya.

Der, make kerudung? Cie, kamu cantik lah. Suerr!”, Fina membentuk jarinya seperti huruf  V. Dera hanya tersenyum menanggapinya.

Fin, kuenya nggak diturunin ?”, mama Fina membawa kue dengan nampan yang sama.

oiya mah, lupa. Oiya mamah, kenalin ini Dera. Teman aku yang biasanya aku ajak foto bareng itu loh. Pasti mamah udah tau kan?”,  Fina mencemberutkan wajahnya ke arah mamahnya. Sepertinya keluarga ini sangat harmonis. Dera hanya tersenyum saja menanggapinya.

oh jadi ini yang namanya Dera? Yang foto selfienya banyak sama kamu itu? Yang sering kamu tunjukin ke mamah itu?”, mama Fina mamandang ke arah Dera dengan pandangan takjub.

iya mah, kenapa gitu?”, Tanya Fina pada mamahnya.

Dera yang nggak pakai kerudung itu?”, Tanya mama Fina lagi. Dera merundunk malu.

ye mamah, tapikan dia udah kerudungan sekarang”, Fina menepuk pundak Dera yang tertunduk malu.

Subhanallah, beda sekali ya, yang ini lebih cantik, cantik sekali nak. Terlihat lebih anggun”, mama Fina mengusap kepala Dera. Dera lagi-lagi tersenyum saja wajahnya bersemua merah.

cie, kata mamah aku tuh. Bukan kata aku lho ya, kamu lebih cantik kayak gini, dan aku gak bohong!, gak ada niat buat kerudung? Wajib loh Der!”, Fina menimpuk Dara dengan bantal sofa, Dera tertawa.

Pagi-pagi sekali Dera sudah mandi. Hari ini hari senin, awal pekan yan harus dinikmati, tak boleh bermalas-malasan. Dera merapikan buku pelajarannya, dan kemudian memakai seragam sekolah. Namun, ada yang berbeda sekarang. Dera tak lagi mengambil rok pendek dan  baju pendek untuk dipakainya. Dera mengambil rok panjang dan baju lengan panjang, tak lupa juga dengan kerudungnya.

Der? Lho kenapa?”, kata mamanya dari balik pintu.

“Dera mau jadi muslimah yang baik mah”.


Fathiyyatul Khair
Siswi Kelas IX SMP IT ANIC Banjarbaru, Kalsel

Bila Waktumu Tiba

Di sebuah kampung di pinggiran kota. Seorang wanita tua duduk termenung di teras rumahnya. Matanya lurus menatap kearah jalan di depan rumahnya. Sesekali melirik keujung jalan disisi kanannya. Sesekali memejamkan mata, seolah berkonsentrasi pada pendengarannya.
Lalu seulas senyum mulai tergambar diwajahnya.

Diujung jalan riuh suara anak - anak bercanda. Wanita tua itu lalu berdiri, berjalan pelan kearah pagar rumahnya.

Anak - anak berseragam sekolah menghampirinya, lalu mengucapkan salam. Satu per satu maju, mencium tangan wanita tua itu. Mereka lalu berdiri dengan sikap takzim, seolah menunggu sebuah fatwa.

Wanita tua itu lalu berkata, “ Sayangi guru dan teman - teman kalian. Ucapkan terima kasih pada guru kalian hari ini ya, Assalamu’alaikum.”

Anak-anak serempak menjawab salamnya, sambil tersenyum dan melambaikan tangan mereka berkata, “ Sampai besok pagi ya, Nenek Guru!”

Wanita tua itu tersenyum sampai anak - anak menghilang dari pandangan matanya, lalu perlahan masuk kerumahnya.

Anak–anak memanggilnya Nenek Guru. Sebuah panggilan kehormatan baginya. Dulu, ia merasa betapa sepi hidupnya kelak, saat usia merambat lanjut. Menjadi guru adalah sebuah keramaian hidup yang ia rindukan setiap hari, bahkan saat libur sekolah.

Sekolah adalah hidupnya, saat rumah adalah tembok - tembok tanpa kata dan sapaan. Sepi adalah teman lainnya saat usianya merangkak naik dan Allah tak jua mempertemukannya dengan seseorang yang bisa berbagi hidup dengannya.

Hidupnya pernah diujung pilihan. Merana dan meratap sendiri dalam sepi, ataukah mengembangkan senyum dan menatap hidup dengan prasangka baik pada Allah. Dan inilah yang ia pilih, menjadi “ Nenek Guru “ setiap pagi bagi anak - anak di sekitar rumahnya.

Di ujung jalan lain. Serombongan anak - anak tiba - tiba menghentikan langkahnya, lalu salah seorang dari mereka berseru,
“ Ssstttt, teman - teman kita sudah dekat, diam dulu !”

Mereka berjalan dengan pelan tanpa suara. Beberapa bahkan berjingkat seolah berharap kehadiran mereka tak disadari oleh seseorang. Sesampainya didepan sebuah rumah, salah seorang dari mereka memberi isyarat tangan untuk tidak mengeluarkan suara dengan meletakkan telunjuk jarinya didepan bibirnya. Mereka berjalan dengan pelan, berharap segera menjauh dari rumah itu, lalu tiba- tiba,

“ Hai, tunggu ! Wah payah nih, masak kalian lupa denganku. Tunggu !”

Anak - anak itu saling memandang, wajah mereka berubah tegang dan panik, lalu seperti telah mereka duga, akhirnya terdengarlah suara itu.

“ Dasar anak - anak pemalas ! Kalian tahu jam berapa ini ? Sudah terlambat masih saja bercanda. Jaga suara kalian di jalan ! Pergi sana ! Mengganggu saja ! Macam apa guru kalian itu, hah ?!! “

Seorang wanita tua berdiri di depan pagar rumahnya sambil memegang sapu lidi menatap tajam kearah anak - anak itu.

Tanpa membantah anak - anak itu berangsut menjauh sambil menunduk. Anak yang tadi berteriak memanggil berjalan cepat menyusul temannya, matanya sembab menahan tangis. Tangis untuk rasa takut dan rasa bersalah pada teman-temannya. Sesampainya diujung gerbang sekolah, mereka saling berpandangan, dan menghembuskan nafas dengan berat seperti telah menahannya sangat lama.

Tak satupun komentar meluncur dari mulut mereka, sampai akhirnya anak yang berteriak tadi berkata, “ Maaf ya, aku lupa. “

Seorang anak yang berbadan lebih besar maju dan berkata, “ Sudahlah, tak apa, besok lagi kita harus berhati - hati saat lewat rumah Nenek Galak itu. Ayo masuk, sudah mau bel !”

Anak-anak memanggilnya “Nenek Galak“, sebuah panggilan yang tidak menyenangkan. Hidup yang sepi menyeretnya pada pilihan bahwa tak seorangpun yang peduli padanya. Hatinya teriris rasa ditinggalkan. Putus asa pada prasangka baik telah menuntunnya, bahwa setiap orang yang melihatnya pasti merasa kasihan atau mencibir menyalahkan. Semua berawal saat hidupnya seperti keinginannya, menjadi wanita mandiri. Uang dan kesenangan hidup melenakannya. Sampai tibalah ia pada saat semua orang bertanya “ kapan ? “

Sebuah pertanyaan yang lalu muncul setiap saat, seakan hidupnya tak tenang lagi. Waktu seperti mengejarnya, hingga ia lelah dan menyerah. Sudahlah, kalau Allah memberinya hidup yang sepi, maka sepi adalah pilihannya. Ia tak akan membiarkan seorangpun meramaikan hidupnya, lagi. Bahkan selirih apapun suara itu.

Menjadi tua adalah keniscayaan. Sendiri pun adalah keniscayaan. Karena, saat hidup kita beralih ke alam penantian (baca:barzah) kita hanya akan sendiri. Tak ada seorangpun yang bahkan dulu selalu mengucapkan kata cinta pada kita setiap hari bersedia menemani kita saat kita adalah jenazah.

Nenek Guru memilih untuk melukis senyum dan menyiapkan kesendiriannya dengan cara yang indah. Sedangkan Nenek Galak menjadikan sepi sebagai teman, bahkan untuk selirih suarapun ia menjauhinya.

“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa.” (QS. Ar Rum: 54)

Pertanyaannya adalah, “ When you get old, what kind of life you choose ? “ Dan jawabannya adalah seperti apakah kita saat ini

Tya Arini
Solo, Jawa Tengah 

Istri Adalah Manajer dan Partner

Wanita dinikahi bukan untuk melakukan aktivitas memasak dan mencuci. Apabila ia bisa memasak dengan rasa yang lezat itu adalah bonus, bukan kewajiban. Istri adalah manajer di dalam rumah. Namanya manajer seyognyanya punya staf alias anak buah maka tugas suamilah menyediakan pembantu untuk istrinya.

Seorang istri harus memastikan bahwa keadaan dan suasana rumah nyaman bagi penghuninya. Ia akan mengusahakan dengan sekuat tenaga agar anggota keluarga betah dan kerasan tinggal di dalam rumah. Sebagai manajer, ia yang bertanggungjawab atas kerapian, ketertiban, kebersihan dan kenyamanan rumah.

Oleh karena itu, seorang istri tidak boleh terlalu lelah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat teknis seperti mencuci, ngepel, memasak dan sejenisnya. Sebab, tugas lain selain sebagai manajer juga memerlukan energi yang besar. Apa itu? Istri juga sebagai partner bagi suami. Ia adalah teman diskusi yang cerdas dan menyenangkan bagi suami.

Tugas istri begitu berat, sungguh tidak pantas seorang suami merendahkannya. Apabila ternyata istri Anda belum sanggup berperan sebagai manajer dan partner, maka tugas suamilah menyiapkan dan mendidiknya. Tanpa manajer dan partner yang hebat, pertumbuhan kesuksesan dan kemuliaan hidup Anda bisa terhambat dan tersendat.

Sebagai manajer dan partner, maka perlakukanlah istri secara terhormat. Dia bukan staf atau karyawan Anda. Dia juga bukanlah pembantu Anda. Bila Anda belum punya pembantu atau mungkin pembantu tidak masuk kerja, ringankanlah dan bantulah istri Anda.

Perlakuan kita terhadap istri akan sangat mempengaruhi perlakuan istri kepada anak-anak di rumah. Apabila kita memperlakukan istri secara terhormat maka akan berpeluang besar menghasilkan anak-anak yang percaya diri, memiliki jiwa kepemimpinan dan kemandirian.  Dalam jangka panjang, anak-anak akan tumbuh ke arah hidup yang lebih bermartabat dengan karakter yang kuat.
Sudahkan kita memperlakukan istri sebagai manajer dan partner?

Salam SuksesMulia!
Jamil Azzaini 
Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

http://www.islamedia.web.id/2012/12/istri-adalah-manajer-dan-partner.html

Kebahagiaan Istri adalah Kebahagiaan Suami


Membahagiakan pasangan kita adalah hal yang sangat penting dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Di dalamnya akan banyak sekali keuntungan yang diperoleh jika pasangan kita merasa berbahagia. Betapa sukses hidup Rasulullah SAW dan para sahabat, karena peran istri-istri mereka karena merasa menjadi manusia yang dibahagiakan oleh suami-suaminya.
Adanya ketenteraman dalam kehidupan berumah tangga merupakan prasyarat bagi lancarnya pencapaian tujuan berumah tangga. Tiap anggota keluarga memiliki tugas dan cita-cita yang harus dikejar dalam hidup ini. Suami bertugas sebagai pemimpin sekaligus pencari nafkah.
Sedangkan istri adalah ratu yang mengatur kondisi rumah tangga sekaligus madrasah bagi anak-anaknya untuk mengenal dunia dan segala tata kehidupannya. Anak-anak adalah tunas yang harus tumbuh dan berkembang hingga dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga dan masyarakat.
Semua tugas dan cita-cita itu hanya bisa terlaksana manakala suasana damai dan tenteram selalu hadir dalam rumah. Betapa sulit mencapai semua tujuan dan cita-cita tersebut manakala suasana yang hadir di rumah dipenuhi dengan amarah, saling curiga dan tak peduli satu sama lain apalagi sampai tak bertegur sapa (komunikasi tidak lancer) hingga berhari-hari lamanya.
Dari banyak kasus, kegagalan (baca; perceraian) dalam membina rumah tangga seringkali dimulai dari tercabutnya rasa aman, damai dan komunikasi yang kurang lancer dari rumah. Dan, peran istri untuk menghadirkan suasana ‘surgawi’ itu tak dapat diganti oleh orang lain, bahkan seorang khadimat (pembantu) sekalipun. Manakala istri merasa bahwa sang suami memberinya kebahagiaan dan keikhlasan, maka tugas mengurus rumah tangga akan mudah dikerjakan.
Kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya harta dan tingginya jabatan seseorang, tetapi ia berada di dalam hati. Tumpukan materi dan sanjungan yang tiada henti bukanlah prasyarat seseorang untuk meraih kebahagiaan. Itu semuanya bermuara pada hati. Seorang suami harus memiliki kelembutan dan kepekaan rasa. Ia harus tahu kapan hati istrinya ‘luka’ dan kapan hatinya sedang bahagia.
Wanita pemalu atau pendiam biasanya hanya menyimpan saja luka di dalam hatinya tanpa mau mengatakan kepada siapapun, sekalipun kepada suaminya. Tidak ada satu nasihat pun yang dapat diterima oleh istri manakala kita menyampaikannya dengan kemarahan atau tak melihat perasaan istri.
Rasulullah SAW pun memberi label pada laki-laki, bahwa yang paling di antara mereka (para suami) adalah yang paling baik sikapnya terhadap istrinya. “Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kamu terhadap istri.” Demikian sabda Nabi SAW.
…Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS. An Nisa: 19)
Marilah kita kenali dan perlakukan hati istri kita dengan baik agar mereka dapat berbahagia, dan agar tujuan dalam membentuk keluarga yang penuh sakinah, mawaddah dan rahmat dapat tercapai. Sudahkah kita memberikan suasana damai dan ikhlas terhadap istri kita. Wallahua’lam.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/25650/kebahagiaan-istri-adalah-kebahagiaan-suami/#ixzz2FlL81IIX

Jalan Panjang Bernama Pernikahan

Islam telah menganjurkan kepada manusia untuk menikah, karena di dalamnya ada banyak hikmah. Pernikahan merupakan fitrah setiap manusia. Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang berpasang-pasangan. Setiap jenis membutuhkan pasangannya. Seorang lelaki membutuhkan wanita, begitu pun sebaliknya, wanita membutuhkan lelaki. Ini adalah fitrah yang berikan kepada manusia.

Islam diturunkan Allah SWT untuk menata hubungan kedua insan agar menghasilkan sesuatu yang positif bagi umat manusia dan tidak membiarkannya berjalan semaunya sehingga menjadi penyebab bencana.

Dalam pandangan Islam, pernikahan adalah akad yang diberkahi. Di mana seorang lelaki menjadi halal bagi seorang wanita begitu pula sebaliknya. Mereka memulai perjalanan hidup berkeluarga yang panjang, dengan saling cinta, tolong menolong dan toleransi.

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Rum: 21).

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah SWT ingin menggambarkan hubungan yang sah itu dengan suasana yang penuh menyejukkan, mesra, akrab, kepedulian yang tinggi, saling percaya, pengertian dan penuh kasih sayang.

Tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan ketenangan dalam hidup karena iklim dalam rumah tangga yang penuh dengan kasih sayang dan mesra. Namun, proses membina pernikahan yang sakinah, mawaddah dan warahmah serta bahagia sering tidak semulus yang dibayangkan oleh kebanyakan pasangan.

Dengan adanya pernikahan, hal itu menunjukkan sejauh mana pasangan mampu merundingkan berbagai hal dan seberapa terampil pasangan suami istri itu mampu menyelesaikan konflik. Pasangan suami istri akan menyadari bahwa hal-hal yang berjalan dengan baik pada tahap-tahap awal pernikahan mungkin tidak dapat berfungsi sebaik pada tahap-tahap berikutnya, yakni ketika pasangan suami istri menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru dalam hubungan berumah tangga.

Sepanjang perjalanan pernikahan, semua pasangan pasti akan menghadapi tekanan-tekanan baru. Tekanan-tekanan tersebut bisa berasal dari luar pernikahan, bisa juga dari dalam pernikahan itu sendiri, atau bahkan dari hal-hal yang sudah lama terpendam jauh di dalam diri masing-masing pasangan.

Pasangan suami istri harus dapat dan mampu menyesuaikan diri dengan pasangan, untuk hidup harmonis, menyeimbangkan tugas-tugas, karir yang sedang menanjak, membesarkan anak-anak dan memberikan dukungan satu sama lain adalah tugas yang sangat kompleks dilakukan pasangan suami istri.

Banyak pasangan suami istri yang terkejut, saat mereka mendapati bahwa konflik lama belum terselesaikan. Dia akan muncul dari orang tua, saudara kandung, atau di luar pasangan. Mereka akan muncul kepermukaan dalam hubungan pernikahan. Dan setiap konflik tersebut menunjukkan adanya tuntutan yang besar terhadap pasangan suami istri ketika mereka berusaha menghadapi berbagai persoalan, belajar memahami arti pengorbanan pada berbagai tingkatan yang baru dan bagaimana mempercayai orang yang dicintai.

Pernikahan tidak selalu menghasilkan banyak tuntutan bagi orang-orang yang menjalaninya. Orang-orang tua kita terdahulu tidak begitu peduli dengan hal-hal tersebut. Bagi mereka pada umumnya, pernikahan adalah bagian dari kelangsungan hidup. Suami mencari nafkah sedangkan istri merawat rumah dan anak-anak.

Namun, kini berumah tangga kehidupan semakin kompleks, dan tuntutan adanya keintiman dalam pernikahan generasi pendahulu, yaitu orang tua kita tidaklah sebesar tuntutan generasi sekarang. Dewasa ini, pasangan suami istri menginginkan jauh lebih banyak hal dari pernikahan.

Mulai dari kehidupan materialist, fisik yang indah, keilmuan, ras, sosial masyarakat. Harapan-harapan yang lebih tinggi itu, pasangan terkadang lupa pada tanggung jawab masing-masing, oleh karena itu pasangan suami istri sangat perlu mengetahui arti pernikahan.

Ya, karena pernikahan merupakan jalan yang aman bagi manusia untuk menyalurkan naluri seks. Pernikahan dapat memelihara dan menyelamatkan keturunan secara baik dan sah. Di samping itu, pernikahan pada dasarnya menjaga martabat wanita sesuai dengan kodratnya.

Pernikahan juga merupakan suatu ikatan yang kuat dengan perjanjian yang teguh yang ditetapkan di atas landasan niat untuk bergaul antara suami istri dengan abadi. Supaya dapat memetik buah kejiwaan yang telah digariskan oleh Allah dalam Al Quran yaitu ketenteraman, kecintaan dan kebahagiaan. Wallahua’lam.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/25406/jalan-panjang-bernama-pernikahan/#ixzz2FPHlvOCM

Sakinah dalam Berumah Tangga

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”. (QS Ar Rum: 21)

Pernikahan tidak hanya sekedar sebuah akad yang menghalalkan dua orang untuk memenuhi hak dan kewajiban sebagai suami istri. Jika hanya sekedar akad, maka hal itu bisa diselesaikan dalam satu waktu saja, namun apa yang sesungguhnya ada di balik sebuah pernikahan?

“Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lai (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil penjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu”. (QS. An Nisa: 21). Maka seperti yang Allah SWT sampaikan pada ayat diatas, pernikahan adalah sebuah perjanjian yang kuat (mitsaqon gholizho). Kata-kata mitsaqon gholizho ini terdapat tiga kali di dalam Al Quran.

Pernikahan ini bukanlah senda gurau, yang pada hari ini diucapkan akad, lalu beberapa saat kemudian bercerai dengan alasan yang lemah. Perjanjian Allah SWT dengan dua orang yang berakad nikah ini disejajarkan dengan perjanjian Allah SWT dengan Bani Israil (QS An Nisa: 154) dan perjanjian Allah dengan para Nabi (QS Al Ahzab: 7).

Membentuk rumah tangga yang sakinah menjadi tanggung jawab suami terutama mendidik keluarganya soal agama. Dan agama adalah masalah keyakinan. Maka penting buat laki-laki untuk mempersiapkan diri soal ini, dan wanita hendaknya pandai memilih pasangan yang dapat membimbing dia.

Bagi suami, hendaklah ia memberikan sesuatu yang patut dalam urusan nafkah serta menjadi imam atau teladan dalam keluarga. Imam tersebut termasuk menjadi imam salat. Dan istri, hendaklah ia menjaga rumah tangga yang dibangun bersama suaminya termasuk menutupi hal-hal yang kurang berkenan di hatinya bahkan pada orang tuanya sendiri.

Secara garis besar, berdasarkan fitrah manusia, agama mengatur tanggung jawab, peran dan fungsi pasangan suami-istri (pasutri) masing-masing dalam kehidupan berkeluarga. Sempurnakanlah dan tunaikanlah hal tersebut dalam perjalanan membangun rumah tangga yang semoga dengan demikian akan dirahmati dan diberkahi oleh Allah SWT.

Menurut ketentuan agama, tanggung jawab sebagai kepala keluarga berada dipundak suami dengan tanggung jawab terbesar dan terberat adalah menjaga agar bahtera keluarga selalu berjalan menuju visi abadi, “kebahagiaan dunia akherat dan terhindar dari siksa neraka abadi”.

Teladan mulia bagi istri tentunya adalah Ibunda Khadijah, yang selalu memberikan keteduhan, kelembutan, dan juga dorongan yang tiada henti kepada suami untuk tetap istiqomah sehingga betapapun beratnya tantangan dalam rangka menuju visi abadi itu selalu dapat diatasi dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Ingatlah selalu bagi pasangan suami istri bahwa salah satu fungsi pasangan suami istri menurut Al Quran surat Al Baqarah ayat 187 adalah seperti pakaian (hunna libaasullakum wa antum libaasullahun, mereka adalah pakaian bagimu dan kamupun adalah pakaian bagi mereka).

Fungsi pakaian selain untuk keindahan adalah juga untuk menutupi aurat, maka suami istri harus saling menutupi kelemahan pasangannya. Seandainya kalian melihat kelemahan pada pasangan kalian maka berdoalah agar dibalik kelemahan itu terdapat kebaikan yang tidak terduga.

Ingatlah firman Allah SWT di dalam surat An Nisa ayat 19, “Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya". Sekali lagi pernikahan itu ada kompromi di dalamnya. Bagaimanapun juga manusia berbeda satu sama lain, bukan? Setiap pasangan suami istri pastinya juga akan berbeda. Namun dengan perbedaan itulah dijadikan satu kekuatan. Wallahua'lam

Top